LAMPUNG – Guna mengoptimalkan potensi budi daya perikanan laut yang aman dan efisien, mahasiswa Program Studi Teknik Kelautan, Institut Teknologi Sumatera (ITERA), sukses menyelenggarakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Rekognisi bertajuk “Evaluasi Kondisi Teknis dan Dampak Lingkungan Keramba Jaring Apung (KJA)”.
Puncak kegiatan ini berupa Diskusi Kelompok Terpumpun serta sosialisasi perbaikan struktur yang digelar bersama masyarakat dan pemangku kepentingan di Desa Durian, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, pada tanggal 24 Agustus 2026.
Kegiatan PKM dan KKN Rekognisi ini berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Mochammad Fathurridho Hermanto, S.T., M.T. Sementara itu, tim pelaksana diketuai oleh Imam Tri Budiyanto, bersama enam anggota mahasiswa Teknik Kelautan lainnya, yakni Ardian Aledea Fafa, Athalla Dwi Revikasha, Ega Darmawan, Julius Markus Dabukke, Rizky Guntara, dan Muhammad Hafiz.
Fokus utama dari kegiatan ini adalah melakukan observasi dan analisis teknis keandalan struktur KJA milik warga terhadap dinamika laut. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, tim menggunakan perangkat lunak simulasi hidrodinamika dan analisis sistem penambatan standar industri lepas pantai.
Ega Darmawan, selaku penanggung jawab perangkat lunak dalam kegiatan ini, menjelaskan bahwa perangkat lunak simulasi hidrodinamika digunakan untuk menghitung respons keramba terhadap gelombang laut dalam enam derajat kebebasan (degrees of freedom).
"Berdasarkan tabel hasil simulasi, kami menemukan bahwa struktur KJA warga paling rentan terhadap gerakan pitch (mengangguk) dengan nilai maksimum 184,91 derajat/meter, dan sway (menyamping) sebesar 2,000 meter/meter. Parameter ini sangat penting sebagai landasan dalam merancang sistem penambatan (mooring) yang memastikan stabilitas operasional keramba,"
papar Ega. Tweet
Lebih lanjut, Ega memaparkan bahwa tim menggunakan analisis OrcaFlex untuk menguji dan memastikan keamanan sistem penambatan tersebut. Simulasi membandingkan batas aman (allowable tension) sebesar 26,946 kN dengan tegangan maksimum pada dua skenario ekstrem, yaitu accidental limit state (ALS) dan ultimate limit state (ULS). Hasilnya, tegangan maksimum (tertinggi pada lajur 2 atau line 2 sebesar 2,6865 kN) berada jauh di bawah batas izin. Hal ini membuktikan bahwa rekomendasi desain penambatan struktur dari tim ITERA sangat aman untuk digunakan.
Selain aspek kekuatan struktur, tim juga memberikan perhatian pada keberlanjutan ekosistem laut. Dalam rekomendasinya, tim Teknik Kelautan ITERA mengedukasi warga untuk menggunakan bahan material keramba yang dinilai paling ramah dan aman bagi lingkungan laut setempat guna menghindari pencemaran jangka panjang.
Rekomendasi teknis dan desain perbaikan ini dipaparkan secara komprehensif kepada warga. Perwakilan masyarakat dan pembudi daya menyambut antusias hasil temuan tersebut. Dalam diskusinya, perwakilan warga menyampaikan bahwa analisis teknis dari mahasiswa ITERA ini sangat berguna sebagai acuan dalam pembuatan keramba jaring apung yang lebih ideal dan efisien, terutama untuk meningkatkan kualitas produksi dan keamanan struktur KJA saat menghadapi cuaca buruk.
Melalui sinergi antara pendekatan teknologi maritim dan pemberdayaan masyarakat ini, ITERA berharap produktivitas budi daya perikanan sistem KJA di Desa Durian dapat terus meningkat serta memberikan dampak ekonomi yang positif dengan operasional yang jauh lebih aman.
Penulis: Ardian Aledea Fafa (Teknik Kelautan)