Dosen dan tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Rekognisi Institut Teknologi Sumatera (Itera) melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat di Pulau Pahawang, Kabupaten Pesawaran, untuk meningkatkan literasi digital dan kemampuan desain. Kegiatan ini telah dilaksanakan pada tanggal 13 hingga 21 September 2025.

Program yang dilakukan oleh 11 mahasiswa dari tiga program studi, merupakan bagian dari proyek yang diawasi oleh dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Candra Prayogi, M. Ds. Fokus utama dari kegiatan ini adalah pelatihan desain digital yang ditujukan untuk berbagai lapisan masyarakat, termasuk pelajar SMP, warga desa, dan anggota Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata). Di SMP Negeri Satap 8 Pesawaran, tim KKN memberikan pelatihan intensif mengenai dasar-dasar desain visual. Tujuannya agar para komunitas lokal dapat membuat konten promosi yang menarik untuk media sosial dan materi cetak. Pelatihan ini juga dirancang untuk mengasah kreativitas dan memberikan keterampilan praktis yang dapat menunjang sektor pariwisata lokal.

Selain pelatihan desain, tim dosen dan mahasiswa KKN juga mengambil langkah konkret untuk pengembangan wisata edukasi. Kegiatan ini dilakukan dengan pengambilan data foto terumbu karang di beberapa spot diving. Data ini akan menjadi bahan utama dalam pembuatan Media Edukasi Interaktif Berbasis Animasi 3D, yang nantinya akan digunakan untuk mengedukasi wisatawan tentang pentingnya pelestarian ekosistem terumbu karang secara menarik dan modern.

Dalam upaya mendukung keberlanjutan lingkungan, tim KKN Itera juga berkolaborasi dengan komunitas Anemon Universitas Lampung (Unila). Sinergi ini diwujudkan dalam serangkaian aksi nyata, seperti penanaman biopori di seluruh dusun yang ada di Pulau Pahawang untuk meningkatkan resapan air, pendirian bank sampah untuk mendorong pemilahan sampah plastik, serta kegiatan bersih-bersih pesisir pantai untuk menjaga keindahan dan kebersihan Pulau Pahawang.
Melalui program ini, Itera menunjukkan komitmen kuat dalam memberdayakan masyarakat melalui teknologi dan pendidikan. Diharapkan, keterampilan yang diberikan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk mengelola potensi wisata mereka sendiri, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap pelestarian lingkungan.


